
“Sayang, i love you….makin sayang ma kamu”
“Happy Bitrhday ya sayang , i love u full”
“Semakin hari semakin mencintaimu”
‘Babe, makasi ya sudah nemenin aku, aku sayang sama kamu”
Believe me…status2 kaya gitu pasti berseliweran di facebook. Setiap hari, aku punya kebiasaan mengaktifkan account fb-ku dan mulai membaca status teman-temanku (ada yang benar2 teman, ada yang teman baru kenal, ada yang cuma “teman” di fb buat menuh2in list friends). Dan rata-rata aku dah cukup merasa terhibur dengan status-status itu. Kadang-kadang sampe geli sendiri. Ada yang curhat, ngeluh, kasi info, ada yang ga jelas, bikin penasaran..,macam2 deh…Tapi yang paling bisa bikin aku merenung, kalo ada yang memuat statusnay dengan ungkapan perasaan yang sangat dalam, ditujukan untuk pasangannya atau yang akan jadi pasangannya… Yang membuat aku berpikir lebih keras lagi adalah mengapa aku tidak bisa seperti itu. Mengapa aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan blak-blakan atau yang lebih sederhananya, kenapa aku ga bisa bikin status cinta-cintaan itu…
Ada perasaan tidak sepantasnya, tabu, tidak enakan dan lain lainnya untuk menunjukkan rasa cinta atau menulis nya di status. Tapi kenapa?Bahkan teman2ku yang aku tau tidak terlalu over mengumbar cinta pernah membuat status seperti itu. Mungkin apa yang kupertanyakan ini bukanlah hal penting tapi bagiku ini merupakan suatu keanehan. Ketika kita tidak terjebak tren dan menjadi minoritas tentu ada yang di luar kewajaran. Pertanyaan lagi sekarang, apakah aku yang tidak wajar atau mereka yang tidak wajar??? Apakah ada yang bisa dijadikan ukuran bagi sesuatu yang disebut kewajaran.
Ada teman yang pernah bertanya, kenapa setelah menikah kami tidak juga “mesra” di fb? Suamiku , yang punya “keanehan” sama sepertiku hanya tersenyum simpul dihadapkan dengan pertanyaan itu. Sementara aku hanya menuntut hatiku dan melontarkan pertanyaan lagi “iya ya, kok kami ga bisa kaya pasangan yang dimabuk cinta lainnya”.
Ketika lelah bertanya, dan hatiku juga sedang tidak berpikirn sama denganku dan tidak bisa diaajak kompromi, akhirnya aku tiba pada suatu kesimpulan yang ku paksakan harus ada. Bahwa pertama, aku mencintai suamiku, meskipun aku tidak bisa menunjukkannya lewat status fb. Cinta kami juga tidak kalah dengan mereka yang a little bit too over saying i love u, kedua, aku bukanlah orang aneh yang tidak wajar, tapi aku dan psanganku adalah orang yang punya prinsip yang tidak terbawa arus, yang melakukan sesuatu karena harus bukan karena diharuskan, ketiga, i just did it, aku baru saja melakukan pengungkapan cinta.barusan,,,,baca point pertama…it’s not too hard to say actually …aku juga bisa melakukannya lagi
i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….i love you, i love my husband, i love mas mus…love….
HAHAHAHHAHAHAHAHA..lega rasanya (please, dont call me a weirdo)
Well, thats all folks
-But still have to think a thousand times to say that in my account fb en twitter-